Sunday, 20 February 2011

The Freak's Hang Out

Yuhuuuuu...beberapa hari yang lalu...setelah pulang ngajar aku dan teman-teman yang super gila...ngumpul-ngumpul bareng... yahhh seperti biasa setelah makan-makan.... kita photo-photo..hahhah super iseng dan narsis gitu kan kita... nih dia piku-piku gak penting kita....

uhhh ni jus jeruk udah abis jugaaa..heeheh

si ayu.... tembem,,yey akhirnya aku tidak sendirian,,huhuy...

maksa banget yah....gelap juga masih poto-poto... :D




Read More

Lagi, Bayi Meninggal Akibat Salah Obat

Kasus bayi yang meninggal akibat salah minum obat di Indonesia kiranya bukan merupakan hal yang baru, kali ini saya akan berbagi pengalaman menyakitkan yang menimpa salah satu kerabat saya, bayi yang baru saja dilahirkannya kira-kira berumur 28 hari menjadi korban mal praktek salah satu bidan Puskesmas setempat (daerah sekitar Cipoho, Sukabumi, Jawa Barat).

Awalnya alm korban sakit panas, lalu dibawa ke PUSKESMAS terdekat dan diberikan obat puyer oleh bidan yang bertugas. Awalnya Bibi alm korban yang membawa ke Puskesmas tersebut pun agak bingung dan bertanya apakah aman apabila bayi berumur 28 hari diberikan obat puyer, akan tetapi sang bidan meyakinkan obat tersebut aman untuk diberikan. Setelah diberikan obat puyer tersebut, keadaan alm korban bukannya membaik malah semakin parah, akhirnya oleh pihak keluarga dibawa ke RSUD R. Syamsudin dan masuk ke ruang ICU, setelah kurang lebih 2 hari di ruang ICU nyawanya tidak bisa diselamatkan. Pihak rumah sakit pun memberikan pernyataan bahwa alm korban meninggal akibat salah obat, dosis yang berlebihan mempengaruhi kondisi jantung si bayi.

Memang apa yang terjadi adalah takdir dan kehendak Allah, saya hanya ingin berbagi pengalaman agar siapa pun yang membaca ini, khususnya para ibu yang memiliki bayi bisa lebih berhati-hati apabila bayinya sakit, daripada membawa ke Puskesmas dengan resiko nyawa melayang, sebaiknya langsung di bawa ke dokter spesialis anak terlebih lagi ketika si bayi masih berumur di bawah satu tahun.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, bagaimana bisa tenaga medis lalai dengan hal-hal fatal seperti ini???? Apabila hal ini tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah, maka kejadian mal praktek seperti ini bukan tidak mungkin akan terulang lagi.


P.S : Kejadian ini sempat diliput oleh stasiun TV swasta seperti TV One, Trans7, dll. Semoga dapat menjadi informasi yang bermanfaat.
Read More

Wednesday, 16 February 2011

Perbandingan Sejarah Epistimologis dan Ontologis Science Islam dan Science Barat

Pada dasarnya epistimologi adalah filsafat ilmu atau dapat juga disebut cabang filsafat yang mempelajari dan menentukan ruang lingkup pengetahuan. Epistimologi sendiri membahas bagaimana ilmu didapatkan. Sebenarnya kekaguman adalah awal dari munculnya epistimologi, maksudnya ketika manusia menggunakan inderanya untuk mengenali alam ini, maka muncullah perasaan kagum yang dalam tahap selanjutnya dapat memunculkan epistimologi.

Selanjutnya, dalam pengertian etimologis, epistimologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang mempunyai arti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, dan Logos juga berarti pengetahuan, jadi dapat disimpulkan bahwa epistimologi adalah ilmu pengetahuan tentang pengetahuan. Epistimologi berhubungan dengan apa yang perlu diketahui dan bagaimana cara mengetahui pengetahuan.

Epistimologi membahas tentang kebenaran suatu pengetahuan. Karena pada hakikatnya jika kita membicarakan tentang ilmu pengetahuan maka dengan sendirinya akan memunculkan suatu perdebatan antara teori tentang kebenaran ilmu pengetahuan itu sendiri dan hakekat pengetahuan. Kedua teori ini berasal dari aliran realisme yang berpendapat bahwa pengetahuan dianggap benar ketika sesuai dengan kenyataan, sedangkan teori tentang hakikat pengetahuan adalah idealisme. Idealisme meyakini bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan realitas adalah mustahil karena pengetahuan adalah proses mental/psikologis yang bersifat subyektif.



Ø Epistimologi Science Islam

Dalam Islam dapat dipahami bahwa ilmu akan mendukung manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat karena bagi siapa pun yang ingin berbahagia di dunia dan akhirat, manusia haruslah menuntut ilmu. Kebahagiaan hakiki akibat ilmu menurut Islam adalah ditentukan oleh benar atau tidaknya manusia dalam mencari kebenaran. Sedangkan hany orang-orang yang berilmu lah yang akan menghasilkan kebenaran. Dan kebenaran yan paling dapat dioercaya adalah kebenaran wahyu Allah.

Islam memandang ilmu bukan terbatas pada eksperimental, Islam mengacu pada 3 aspek. Aspek yang pertama adalah aspek metafisika yang dijelaskan wahyu yang mengungkap realitas yang agung, dengan menjawab pertanyaan dari mana, kemana dan bagaimana maka manusia akan mengetahui landasan berpijak dan memahami akan Tuhannya. Aspek yang kedua adalah humaniora dan studi yang berkaitan dengan pembahasan mengenai kehidupan manusia, hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, ekonomi dll. Ketiga adalah aspek material, yaitu alam raya, ilmu yang berdasarkan observasi dan eksperimen. Jadi dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya menggunakan rasionalitas dan empirisme saja dalam menemukan kebenaran akan tetapi Islam menghargai dan menggunakan wahyu dan intuisi serta ilham dalam mencari kebenaran.

Al Qur’an menganjurkan kepada manusia untuk menggunakan akal dalam memperoleh pengetahuan dan dengan fenomena akal inilah manusia dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Walaupun Islam menganjurkan manusia menggunakan akal untuk memahami sesuatu tetapi peran akal dalam eksperimen tidak sebebas-bebasnya. Artinya ketika akal manusia terbentur atau menemukan keterbatasannya maka yang berlaku pada saat itu adalah keimanan terhadap wahyu Allah.

Eksperimen yang dilakukan pun terbatas kepada pengetahuan yang bersifat fisika, sedangkan yang bersifat metafisika seperti surge, neraka, malaikat, azab kubur dan peristiwa hari kiamat itu adalah kajian wahyu dan hanya dapat diimani dan tidak dapat diakali.

Sehingga dapat dipahami bahwa didalam Islam, epistimologi ilmu adalah menyatukan akal dan mengarahkannya untuk mencapai pengetahuan dan kebenaran berdasarkan wahyu dan keimanan pada Allah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber dari pengetahuan menurut Islam adalah wahyu. Demi mendapatkan ilmu tersebut adalah dengan menggunakan panca indera dan akal yang semua kegiatannya dikendalikan oleh iman dan wahyu. Wahyu merupakan puncak segala sumber pengetahuan yang merupakan manifestasi dari firman Allah.

Ø Epistimologi Science Barat

Science barat dapat juga dikatakan sebagai science sekuler. Pemikiran barat yang sekuler ini adalah alur pemikiran yang memebebaskan diri dari hal-hal yang bersifat religi dan berkecenderungan kepada hal-hal yang bersifat duniawi dan kebendaan. Sekulerisme berusaha membebaskan manusia dari pemikiran yang berkaitan dengan keagamaan dan metafisika yang memfokuskan diri kepada hal-hal yang bersifat duniawi dan materi.

Di barat, sekulerisme lahir dari pertentangan antara ilmu dan agama Kristen. Sekulerisasi yang terjadi pun berupa pemisahan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Bahkan pada sekitar abad pertengahan, pengetahuan yang isinya bertentangan dengan agama dalam hal ini gereja, dianggap melawan otoritas gereja. Dan konsep yang dianut adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui metode ilmiah. Hal ini telah menghasilkan kemajuan ilmu-ilmu sekuler seperti metamatika, fisika, dan kimia yang telah berhasil membawa kemajuan bagi kehidupan manusia. Selanjutnya, dalam konsep science barat, sesuatu dapat dijadikan ilmu dan dianggap sebagai ilmu jika sudah terbukti secara empiris. Epistimologi sains dalam pandangan sekuler mencoba mencari kebenaran dengan metode ilmiah.

Ilmu dikatakan sebagai ilmu kalau telah memenuhi metode ilmiah. Metode ilmiah berusaha menggabungkan cara berfikir deduktif dan induktif. Penalaran deduktif mengacu kepada rasionalisme sedangkan induktif mengacu kepada empirisme. Empirisme percaya bahwa indrawi manusia adalah sumber pengetahuan. Pola pemikiran empirisme menekankan pada kemampuan untuk mendapatkan ilmu dengan indra yang dimiliki, tidak harus dengan wahyu.

Jadi, untuk mendapatkan ilmu menurut Islam adalah dengan memepergunakan panca indera, akal dan hati yang dibingkai dengan keimanan dan kendali wahyu, sebaliknya, dalam science barat, pengetahuan dianggap sebagai ilmu jika dibuktikan kebenarannya dan sesuatu dianggap ilmu tanpa harus memperhatikan manfaat ilmu bagi manusia serta sumber pengetahuan satu-satunya adalah akal dan panca indera.


Ø Ontologi Science Islam dan Science Barat

Seperti yang telah kita ketahui, ontologi adalah paham mengenai hakikat sesuatu. Di dalam Islam sendiri ontologi itu tidak lah sekedar yang tampak dan dapat diserap oleh alam empiris. Sementara itu bagi science barat, ontologi terbatas oleh dunia empiris, bagi mereka yang tampak dan diserap oleh panca indra itulah wujud. Dalam pandangan seperti ini muncullah aliran empirik-positivistik.

Di dalam Islam, yang wujud itu bukan hanya sekedar fisik akan tetapi juga sesuatu yang bersifat metafisik. Jika kita lihat lebih lanjut, science barat memandang sesuatu berdasarkan experience atau pengalaman yang empirik, sedangkan Islam memandang experience tidak hanya empirik, akan tetapi juga meta-empirik, yaitu pengalaman panca indra, rohani spriritual dan trans-empirikal. Ontologi Islam memberikan pemahaman bahwa saluran ilmu bagi Islam terdiri atas 2 bagian. Yang pertama adalah panca indera eksternal, yang meliputi peraba, perasa, pencium, pendengaran dan penglihatan. Yang kedua adalah panca indra internal, yaitu common sense, representasi, estimasi, rekoleksi, dan imaginasi.

Pada dasarnya Science barat secara ontologi hanyalah materialis dan mengutamakan wujud fisik. Selanjutnya science barat intelek identik dengan rasio yang bersifat parsial.
Read More

THE KISS

by: Kate Chopin (1851-1904)

The following story is reprinted from Vogue Magazine, January 17, 1895.


It was still quite light out of doors, but inside with the curtains drawn and the smouldering fire sending out a dim, uncertain glow, the room was full of deep shadows.


Brantain sat in one of these shadows; it had overtaken him and he did not mind. The obscurity lent him courage to keep his eyes fastened as ardently as he liked upon the girl who sat in the firelight.

She was very handsome, with a certain fine, rich coloring that belongs to the healthy brune type. She was quite composed, as she idly stroked the satiny coat of the cat that lay curled in her lap, and she occasionally sent a slow glance into the shadow where her companion sat. They were talking low, of indifferent things which plainly were not the things that occupied their thoughts. She knew that he loved her—a frank, blustering fellow without guile enough to conceal his feelings, and no desire to do so. For two weeks past he had sought her society eagerly and persistently. She was confidently waiting for him to declare himself and she meant to accept him. The rather insignificant and unattractive Brantain was enormously rich; and she liked and required the entourage which wealth could give her.

During one of the pauses between their talk of the last tea and the next reception the door opened and a young man entered whom Brantain knew quite well. The girl turned her face toward him. A stride or two brought him to her side, and bending over her chair—before she could suspect his intention, for she did not realize that he had not seen her visitor—he pressed an ardent, lingering kiss upon her lips.

Brantain slowly arose; so did the girl arise, but quickly, and the newcomer stood between them, a little amusement and some defiance struggling with the confusion in his face.
"I believe," stammered Brantain, "I see that I have stayed too long. I—I had no idea—that is, I must wish you good-by." He was clutching his hat with both hands, and probably did not perceive that she was extending her hand to him, her presence of mind had not completely deserted her; but she could not have trusted herself to speak.

"Hang me if I saw him sitting there, Nattie! I know it's deuced awkward for you. But I hope you'll forgive me this once—this very first break. Why, what's the matter?"

"Don't touch me; don't come near me," she returned angrily. "What do you mean by entering the house without ringing?"


"I came in with your brother, as I often do," he answered coldly, in self-justification. "We came in the side way. He went upstairs and I came in here hoping to find you. The explanation is simple enough and ought to satisfy you that the misadventure was unavoidable. But do say that you forgive me, Nathalie," he entreated, softening.


"Forgive you! You don't know what you are talking about. Let me pass. It depends upon—a good deal whether I ever forgive you."

At that next reception which she and Brantain had been talking about she approached the young man with a delicious frankness of manner when she saw him there.


"Will you let me speak to you a moment or two, Mr. Brantain?" she asked with an engaging but perturbed smile. He seemed extremely unhappy; but when she took his arm and walked away with him, seeking a retired corner, a ray of hope mingled with the almost comical misery of his expression. She was apparently very outspoken.


"Perhaps I should not have sought this interview, Mr. Brantain; but—but, oh, I have been very uncomfortable, almost miserable since that little encounter the other afternoon. When I thought how you might have misinterpreted it, and believed things"—hope was plainly gaining the ascendancy over misery in Brantain's round, guileless face—"Of course, I know it is nothing to you, but for my own sake I do want you to understand that Mr. Harvy is an intimate friend of long standing. Why, we have always been like cousins—like brother and sister, I may say. He is my brother's most intimate associate and often fancies that he is entitled to the same privileges as the family. Oh, I know it is absurd, uncalled for, to tell you this; undignified even," she was almost weeping, "but it makes so much difference to me what you think of—of me." Her voice had grown very low and agitated. The misery had all disappeared from Brantain's face.

"Then you do really care what I think, Miss Nathalie? May I call you Miss Nathalie?" They turned into a long, dim corridor that was lined on either side with tall, graceful plants. They walked slowly to the very end of it. When they turned to retrace their steps Brantain's face was radiant and hers was triumphant.


Harvy was among the guests at the wedding; and he sought her out in a rare moment when she stood alone.


"Your husband," he said, smiling, "has sent me over to kiss you."

A quick blush suffused her face and round polished throat. "I suppose it's natural for a man to feel and act generously on an occasion of this kind. He tells me he doesn't want his marriage to interrupt wholly that pleasant intimacy which has existed between you and me. I don't know what you've been telling him," with an insolent smile, "but he has sent me here to kiss you."


She felt like a chess player who, by the clever handling of his pieces, sees the game taking the course intended. Her eyes were bright and tender with a smile as they glanced up into his; and her lips looked hungry for the kiss which they invited.


"But, you know," he went on quietly, "I didn't tell him so, it would have seemed ungrateful, but I can tell you. I've stopped kissing women; it's dangerous."


Well, she had Brantain and his million left. A person can't have everything in this world; and it was a little unreasonable of her to expect it.
Read More

Kritik Sastra

1. Teori Kritik Sastra Kelompok Lekra

Pada tanggal 17 Agustus 1950, telah didirikan suatu lembaga kebudayaan rakyat yang biasa disebut Lekra. Kelompok Lekra yang beranggotakan para seniman dan sastrawan Indonesia menganut paham realisme sosial. Tidak hanya para seniman dan sastrawan saja, tetapi para simpatisannya pun menganut paham tersebut. Paham realisme sosialis ini dikemukakan oleh Sutan Syahrir. Paham ini dijadikan sebagai teori penciptaan seni budaya, yaituseni sastra dan teori kritik sastra. Selain Sutan Syahrir, seorang penganut dan sastrawan serta kritikus Lekra mengemukakan bahwa seluruh kelompok Lekra berpihak kepada rakyat dan juga mengabdi kepada rakyat dengan berdasarkan paham “seni untuk rakyat”. Artinya, seluruh karya seni yang diciptakan semata-mata untuk pengabdian terhadap rakyat bukanlah aliran “seni untuk seni”, karena kembali pada pahamnya yaitu karya seni kelompok Lekra tegas berpihak kepada rakyat.

Corak yang menonjol pada Lekra adalah komunistis, dikatakan demikian karena pendiri Lekra adalah para tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), antara lain Aidit, Nyoto, Henk Ngantung, dll. Jadi, perlu diketahui bahwa corak komunisme ini adalah hal yang paling menonjol dalam karya seni dan sastranya.

Istilah realisme sosialis yang dianut oleh kelompok Lekra bisa dikatakan menjadi suatu strategi dalam sastra. Pada poin-poin seperti plot, gaya bahasa dan metode penyampaiannya bersifat akademik, dan kritik sastra Lekra ini bersifat pragmatic, artinya bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, terutama rakyat pekerja.


2. Teori Sastra Revolusioner dan Kritik Sastra Revolusioner Sitor Situmorang

Teori kritik sastra revolusioner merupakan begian dari kritik satra Lekra. Kritik sastra ini mulai berkembang ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Jika Lekra mempunyai corak komunis dan bersandar pada rakyat, maka kritik sastra Revolusioner ini bersandar pada pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada setiap tanggal 17 Agustus. Jadi, kritik sastra Revolusioner ini bersandar pada manifesto politik, sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin dan kepribadian Indonesia. Karya sastra Sitor Situmorang menjadi pusat dan gagasan utama bagi kritik dan teori sastra Revolusioner. Pada saat itu Sitor Situmorang ketua LKN atau sering disebut Lembaga Kebudayaan Nasional. Beliau bekerja sam dengan Lekra untuk menentang sastra feudal borjuis, yang berasaska “seni untuk seni”.

Sastra Revolusioner ini harus ditinjau dari segi sejarah sastra Indonesia serta kaidahnya. Karena revolusi itu adalah peristiwa sejarah dan peristiwa yang terjadi di dalam kepemerintahan Indonesia. Sitor mengemukakan teori dan metode ilmu sastra Revolusioner dengan berlandaskan TAVIP (Tahun Vivere Pericoloso) yang artinya tahun menyerempet-nyerempet bahaya. Pidato kenegaraan Presiden Soekarno yang mencanangkan dinamika, dialektika dan romantika revolusi. Gagasan Sitor ini adalah transformasi gagasan Lekra.

Dapat diuraikan bahwa sastra Revolusioner yang digagas oleh Sitor pada hakikatnya sama dengan Lekra, dimana karya sastranya bertujuan politik dan pembangunan serta teori.
Read More

A HAPPY ENDING

by: Anton Chekhov


The following story is reprinted from The Horse Stealers and Other Stories. Trans. Constance Garnett. New York: Macmillan, 1921.


LYUBOV GRIGORYEVNA, a substantial, buxom lady of forty who undertook matchmaking and many other matters of which it is usual to speak only in whispers, had come to see Stytchkin, the head guard, on a day when he was off duty. Stytchkin, somewhat embarrassed, but, as always, grave, practical, and severe, was walking up and down the room, smoking a cigar and saying:

"Very pleased to make your acquaintance. Semyon Ivanovitch recommended you on the ground that you may be able to assist me in a delicate and very important matter affecting the happiness of my life. I have, Lyubov Grigoryevna, reached the age of fifty-two; that is a period of life at which very many have already grown-up children. My position is a secure one. Though my fortune is not large, yet I am in a position to support a beloved being and children at my side. I may tell you between ourselves that apart from my salary I have also money in the bank which my manner of living has enabled me to save. I am a practical and sober man, I lead a sensible and consistent life, so that I may hold myself up as an example to many. But one thing I lack--a domestic hearth of my own and a partner in life, and I live like a wandering Magyar, moving from place to place without any satisfaction. I have no one with whom to take counsel, and when I am ill no one to give me water, and so on. Apart from that, Lyubov Grigoryevna, a married man has always more weight in society than a bachelor. . . . I am a man of the educated class, with money, but if you look at me from a point of view, what am I? A man with no kith and kin, no better than some Polish priest. And therefore I should be very desirous to be united in the bonds of Hymen--that is, to enter into matrimony with some worthy person."


"An excellent thing," said the matchmaker, with a sigh.


"I am a solitary man and in this town I know no one. Where can I go, and to whom can I apply, since all the people here are strangers to me? That is why Semyon Ivanovitch advised me to address myself to a person who is a specialist in this line, and makes the arrangement of the happiness of others her profession. And therefore I most earnestly beg you, Lyubov Grigoryevna, to assist me in ordering my future. You know all the marriageable young ladies in the town, and it is easy for you to accommodate me."


"I can. . . ."

"A glass of wine, I beg you. . . ."


With an habitual gesture the matchmaker raised her glass to her mouth and tossed it off without winking.


"I can," she repeated. "And what sort of bride would you like, Nikolay Nikolayitch?"

"Should I like? The bride fate sends me."

"Well, of course it depends on your fate, but everyone has his own taste, you know. One likes dark ladies, the other prefers fair ones."


"You see, Lyubov Grigoryevna," said Stytchkin, sighing sedately, "I am a practical man and a man of character; for me beauty and external appearance generally take a secondary place, for, as you know yourself, beauty is neither bowl nor platter, and a pretty wife involves a great deal of anxiety. The way I look at it is, what matters most in a woman is not what is external, but what lies within--that is, that she should have soul and all the qualities. A glass of wine, I beg. . . . Of course, it would be very agreeable that one's wife should be rather plump, but for mutual happiness it is not of great consequence; what matters is the mind. Properly speaking, a woman does not need mind either, for if she has brains she will have too high an opinion of herself, and take all sorts of ideas into her head. One cannot do without education nowadays, of course, but education is of different kinds. It would be pleasing for one's wife to know French and German, to speak various languages, very pleasing; but what's the use of that if she can't sew on one's buttons, perhaps? I am a man of the educated class: I am just as much at home, I may say, with Prince Kanitelin as I am with you here now. But my habits are simple, and I want a girl who is not too much a fine lady. Above all, she must have respect for me and feel that I have made her happiness."


"To be sure."


"Well, now as regards the essential. . . . I do not want a wealthy bride; I would never condescend to anything so low as to marry for money. I desire not to be kept by my wife, but to keep her, and that she may be sensible of it. But I do not want a poor girl either. Though I am a man of means, and am marrying not from mercenary motives, but from love, yet I cannot take a poor girl, for, as you know yourself, prices have gone up so, and there will be children."


"One might find one with a dowry," said the matchmaker.

"A glass of wine, I beg. . . ."


There was a pause of five minutes.

The matchmaker heaved a sigh, took a sidelong glance at the guard, and asked:

"Well, now, my good sir . . . do you want anything in the bachelor line? I have some fine bargains. One is a French girl and one is a Greek. Well worth the money."


The guard thought a moment and said:

"No, I thank you. In view of your favourable disposition, allow me to enquire now how much you ask for your exertions in regard to a bride?"

"I don't ask much. Give me twenty-five roubles and the stuff for a dress, as is usual, and I will say thank you . . . but for the dowry, that's a different account."

Stytchkin folded his arms over his chest and fell to pondering in silence. After some thought he heaved a sigh and said:

"That's dear. . . ."

"It's not at all dear, Nikolay Nikolayitch! In old days when there were lots of weddings one did do it cheaper, but nowadays what are our earnings? If you make fifty roubles in a month that is not a fast, you may be thankful. It's not on weddings we make our money, my good sir."

Stytchkin looked at the matchmaker in amazement and shrugged his shoulders.

"H'm! . . . Do you call fifty roubles little?" he asked.

"Of course it is little! In old days we sometimes made more than a hundred."

"H'm! I should never have thought it was possible to earn such a sum by these jobs. Fifty roubles! It is not every man that earns as much! Pray drink your wine. . . ."

The matchmaker drained her glass without winking. Stytchkin looked her over from head to foot in silence, then said:

"Fifty roubles. . . . Why, that is six hundred roubles a year. . . . Please take some more. . . With such dividends, you know, Lyubov Grigoryevna, you would have no difficulty in making a match for yourself. . . ."

"For myself," laughed the matchmaker, "I am an old woman."

"Not at all. . . . You have such a figure, and your face is plump and fair, and all the rest of it."

The matchmaker was embarrassed. Stytchkin was also embarrassed and sat down beside her.

"You are still very attractive," said he; "if you met with a practical, steady, careful husband, with his salary and your earnings you might even attract him very much, and you'd get on very well together. . . ."

"Goodness knows what you are saying, Nikolay Nikolayitch."

"Well, I meant no harm. . . ."


A silence followed. Stytchkin began loudly blowing his nose, while the matchmaker turned crimson, and looking bashfully at him, asked:

"And how much do you get, Nikolay Nikolayitch?"

"I? Seventy-five roubles, besides tips. . . . Apart from that we make something out of candles and hares."

"You go hunting, then?"

"No. Passengers who travel without tickets are called hares with us."

Another minute passed in silence. Stytchkin got up and walked about the room in excitement.

"I don't want a young wife," said he. "I am a middle-aged man, and I want someone who . . . as it might be like you . . . staid and settled and a figure something like yours. . . ."


"Goodness knows what you are saying . . ." giggled the matchmaker, hiding her crimson face in her kerchief.

"There is no need to be long thinking about it. You are after my own heart, and you suit me in your qualities. I am a practical, sober man, and if you like me . . . what could be better? Allow me to make you a proposal!"

The matchmaker dropped a tear, laughed, and, in token of her consent, clinked glasses with Stytchkin.

"Well," said the happy railway guard, "now allow me to explain to you the behaviour and manner of life I desire from you. . . . I am a strict, respectable, practical man. I take a gentlemanly view of everything. And I desire that my wife should be strict also, and should understand that to her I am a benefactor and the foremost person in the world."

He sat down, and, heaving a deep sigh, began expounding to his bride-elect his views on domestic life and a wife's duties.
Read More

Infotainment Abaikan Kode Etik Jurnalistik

Infotainment adalah suatu istilah populer untuk berita atau dapat juga disebut informasi hiburan di kalangan masyarakat kita dewasa ini. Perkembangan infotainment di Indonesia boleh dikatakan cukup signifikan, sekitar tahun 2000 hanya ada segelintir infotainment yang ditayangkan oleh stasiun tv tertentu dan tidak lebih dari sekali tayang setiap harinya, akan tetapi dalam jangka waktu 5 tahun hingga saat ini, tayangan infotainment di televisi kian menjamur, bahkan ditayangkan pagi dan sore hari. Bahkan menurut hasil survey Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Maret 2006, tayangan infotainment telah mengisi 63 persen tayangan televisi Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kondisi psikologis masyarakat yang jenuh akan pemberitaan politik, misalnya tentang korupsi para pejabat yang tidak kunjung memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, dan pemberitaan tentang ekonomi yang seringkali meneror kehidupan, seperti kenaikan harga bahan kebutuhan pokok atau kenaikan BBM. Pada situasi seperti inilah infotainment mengambil alih perhatian masyarakat yang dianggap dapat mengobati kerinduan masyarakat akan berita yang ringan dan menghibur.

Namun dalam perkembangannya, infotainment menuai banyak kritik terutama dari sisi jurnalistik. Menurut A.W Widjaja, seorang pakar jurnalistik, pada dasarnya jurnalistik adalah suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang actual dan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya. Bila kita telaah dari segi pengertian jurnalistik itu sendiri, maka infotainment merupakan produk jurnalistik karena menyiarkan berita tentang peristiwa atau kejadian sehari-hari akan tetapi dalam pencarian berita misalnya, para wartawan infotainment sepertinya mengabaikan kode etik jurnalistik yang ada. Secara umum kode etik jurnalistik adalah acuan moral yang mengatur tindak-tanduk seorang wartawan. Bentuk pengabaian wartawan infotainment terhadap kode etik jurnalistik dalam mencari berita diantaranya adalah tidak menghormati hak privasi. Seringkali para wartawan infotainment mengganggu privasi selebritis yang akan dikorek beritanya, tentu saja ini bertolak belakang dengan norma kesopanan dalam masyarakat. Jika kita telusuri lebih lanjut, kebebasan pers di Indonesia juga sangat berpengaruh pada perkembangan infotainment. Persepsi bahwa kebebasan pers adalah kebebasan untuk memuat berbagai macam informasi untuk masyarakat dengan mengabaikan norma-norma tertentu agaknya memang keliru. Kebebasan pers yang sebenarnya ialah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum. Pers, dewasa ini telah kehilangan jati dirinya bila dikaitkan dengan Infotainment. Bila kebebasan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi guna meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Maka, Infotainment tidak termasuk didalamnya, karena berita-berita yang dimuat dianggap tidak memberikan pendidikan bagi masyarakat, selain hanya mengorek kehidupan pribadi selebritis, beritanya pun sering tidak sesuai dengan fakta dan tentunya semakin jauh dari kode etik jurnalistik yang mengharuskan wartawan selalu memuat berita sesuai dengan fakta-fakta yang ada serta akurat dalam penyajiannya.

Selain itu, bentuk pengabaian terhadap kode etik jurnalistik tercermin dalam pencemaran nama baik selebritis serta pelangaran norma-norma masyarakat. Seringkali para selebritis mengalami pencemaran nama baik oleh wartawan yang dalam pemberitaannya tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Tidak jarang para selebritis merasa nama baiknya tercemar dan merasa sakit hati oleh pemberitaan wartawan yang jauh berbeda dengan fakta yang ada, bahkan beberapa diantaranya menuntut wartawan ke pengadilan dengan tuntutan pencemaran nama baik. Pelanggaran norma-norma masyarakat terjadi apabila mengungkapkan isu-isu kehidupan pribadi selebritis, misalnya menguak perceraian atau perselingkuhan. Pada pasal 4 dalam kode etik jurnalistik, ditetapkan bahwa wartawan Indonesia tidak memuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul. Maka infotainment yang menayangkan adegan seorang selebritis yang sedang bermesraan bersama kekasihnya dengan memakai pakaian serba minim atau menampilkan photo-photo mesra antara keduanya tentu saja bertolak belakang dengan pasal 4 kode etik jurnalistik tersebut yang seharusnya tidak mencerminkan pornografi atau cabul serta tidak pantas untuk ditayangkan di televisi secara luas.

Dalam BAB II pasal 3 mengenai asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranan pers dalam kode etik jurnalistik Indonesia, penayangan infotainment di televisi tidak memenuhi fungsi dan peranan pers tersebut, khususnya bila menyangkut fungsi edukasi yang dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Infotainment hanya sebatas memberikan informasi berupa gossip yang belum tentu benar faktanya. Kontroversi pada infotainment juga sering dikaitkan dengan isu normatif mengenai muatan beritanya, statusnya sebagai sebuah berita, dan status para pencari beritanya.
Read More

Learning English with my Students

Mau bagi-bagi sedikit cerita dan pengalaman aja.... sebenernya dari dulu saya gak pernah berniat untuk mengajar..walaupun saya memang mengambil jurusan sastra Inggris saat kuliah...awalnya saat lulus kuliah dan menunggu waktu wisuda, saya ditawari untuk mengajar, sambil nunggu waktu wisuda yang memang cukup lama sekitar 2 bulan, saya mencoba untuk mengajar, selain mengisi waktu luang juga dapet income yang cukup lumayan...ya dari pada nganggur kan.... 

Pertengahan Oktober 2010 saya mulai mengajar di sebuh lembaga kursus bahasa asing di Sukabumi, awalnya agak aneh juga sih soalnya pengalaman ngajar pun masih minim, sebelumnya hanya punya pengalaman mengajar saat kuliah yang biasa disebut PPL di sebuah SMPN. Gak disangka setelah beberapa lama mengajar, saya menemukan keasyikan tersendiri, bertemu dengan anak-anak dari SD hingga SMA yang selalu ceria saat belajar bahasa Inggris bersama saya.... :) 

Saat mengajar saya merasa sangat enjoy dan terbawa ceria oleh murid-murid... (yahh mungkin bawaaan juga sihh yaaa emang saya orang nya cheerful :p heheheh) nah hingga saat ini saya masih mengajar di tempat kursus tersebut, setelah beberapa lama saya menemukan suatu manfaat yang berbeda dari pekerjaan yang lain.

Ketika  kita bisa membagi ilmu kita dengan orang lain, selain merupakan ibadah untuk kita, kita juga akan merasa bahagia dan ilmu kita dengan sendirinya akan bertambah pula. Kita juga akan mempunyai pengalaman berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sifat beragam, murid yang saya ajar tentu saja memiliki sifat yang berbeda-beda dan itu menjadi tantangan tersendiri untuk saya dalam menghadapi beragam sifat mereka agar proses belajar menjadi tetap menyenangkan.

Yang saya lakukan untuk menghadapi hal tersebut adalah dengan memposisikan diri kita tidak sebagai guru, melainkan sebagai teman bekajar mereka. Di kelas, saya berusaha bersikap sangat supel, ramah, dan ceria, ternyata mereka menyukainya dan terus ingin belajar walaupun waktu belajar sudah selesai, hal ini memotivasi saya untuk membuat suasana belajar semakin menyenangkan. Hal yang saya lakukan adalah memberikan mereka game di awal atau di akhir proses belajar yang membuat reflek mereka akan penguasaan bahasa inggris semakin terasah, tentunya game yang diberikan disesuaikan dengan level mereka masing-masing. Saat belajar bahasa Inggris, mereka harus selalu merasa aktif agar tetap semangat. Biasanya mereka sangat menyukai aktivitas ini, bahkan mereka selalu meminta bermain game saat saya mengajar.

Tantangannya tentu saja, games yang akan diberikan pada mereka haruslah games yang berbeda dari yang sebelumnya. Cukup sulit juga karena kita dituntut untuk lebih kreatif, tapi ternyata sangat menyenangkan... jadi untuk kalian yang punya kepribadian ceria dan supel serta menguasai bahasa inggris, tidak ada salahnya mencoba untuk mengajar, karena kita akan mendapatkan manfaat yang baik dan menyenangkan... (bisa bikin kita awet muda juga lohh, hhehhe :D )





Read More

Tuesday, 15 February 2011

The Green Hornet: Jay Chou on Screen

Jay Chou, aktor asal Taiwan ini bisa dibilang cukup "cool" yaaa dengan memulai debutnya di Hollywood dalam film action-comedy, The Green Hornet. Dalam film produksi Hollywood ini Jay Chou berperan sebagai Kato bersama aktor komedian Seth Rogan yang berperan sebagai Britt Reid. Sebenernya aku bukan termasuk penggemar Jay Chou, bahkan pertama kali 'ngeh' waktu dia maen film Initial D...hehehe barulah tau kalo itu doi and dia penyanyi paling terkenal se-Asia (*mikir: gue hidup di planet mana sihhh??). Setelah nonton film Intial D itulah mulai agak ng'fans sama doi.. soalnya aktingnya lumayan oke tuhh...
Waktu liat trailer The Green Hornet di tv...langsung kaget lah...yay Jay Chou maen film Holyywood, berarti dia punya kapasitas akting yang oke juga dong selain alasan profit bagi Hollywood berhubung doi terkenal banget di Asia jadi bisa mendongkarak kesuksesan film itu sendiri.
Nah setelah selesai nonton filmnya... hmmm action-comedy yang cukup menghibur..cuma agak kecewa juga adegan action nya dibuat 3D jadi kurang kerasa real..padahal Jay Chou kan udah latihan martial art...yahhh asyik juga sih bisa ngeliat wajah cute and innocent nya doa di film itu... surprise juga dengan pronounce bahasa inggrisnya yang menurut aku lebih bagus dari pada Jackie Chan..walaupun aslinya dia masih agak kesulitan juga berkomunikasi dalam bahasa inggris, kasian juga yaaa doi susah banget berkomunikasi saat di interview di Holyywood sana...tapi two thumbs up deh buat Jay Chou..sebagai orang asia, ikut bangga aja bisa ada Asian yang maen film Holyywood sebagai pemeran utama..pokonya better than Rain yang sudah lebih dulu memulai debut Hollywood-nya dalam film Speed Racer dan Ninja Assassin. 
He's such a talented actor... bermain film Hollywood merupakan pembuktian besar bahwa aktor Asia juga bisa bersaing dengan aktor Hollywood, jaman sudah mulai berubah, sekarang aktor Asia bukan lagi sebagai pemeran tambahan yang kadang keberadaannya seringkali dianggap remeh.... Oke dehh Good luck for Jay Chou..and for other Asian actor... this is Asia's time... :)
Read More

Forbidden City: China Heritage

Berhubung masih dalam suasana Imlek…. mau sedikit berbagi sama hal-hal yang berbau China… :) Kalau The Great Wall of China a.k.a Tembok China mungkin sudah sangat dikenal oleh banyak orang, tapi selain Tembok China, Forbidden City juga merupakan peninggalan sejarah bangsa China dan menjadi situs sejah yang dicatat UNESCO pada tahun 1987 sebagai salah satu warisan sejarah dunia. Bangunan ini berdiri megah di areal seluas 720.000 m2, terdiri atas 980 bangunan, dengan 8707 kamar – yang konon dulunya merupakan tempat tinggal para selir kaisar.
Pertama kali nyadar ada bangunan super megah gini gara-gara nonton film action-comedy nya Jackie Chan dan Owen Wilson, “Shanghai Noon”. Film tesebut memang berlokasi shooting di Forbidden City, dengan setting sekitar awal abad 19. Bangunan ini disebut Forbidden City (dalam bahasa Indonesia artinya Kota Terlarang) karena memang terlarang bagi rakyat biasa, yang diperbolehkan memasuki Forbidden City ini hanyalah keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi saja.
Forbidden City ini juga merupakan kompleks istana. Forbidden City dibangun tahun 1406 dan baru selesai pada tahun 1420. Masing-masing kamar tergabung dalam beberapa bangunan megah dengan arsitektur asli China yang menawan. Setiap bagian atap bangunan diukir dengan lukisan naga yang melambungkan kekuasaan sang kaisar.Kawasan yang dilengkapi parit dan tembok setinggi sekitar 10 meter itu terbagi dalam dua bagian. Di bagian depan yang ada di bagian selatan, berisi enam bangunan utama tempat para kaisar menjalankan kegiatan mengurus kerajaan. Sementara di belakangnya atau bagian utara merupakan tempat tinggal kaisar dan keluarganya.
Setiap bagian selalu penuh ornamen yang tak sederhana. Inilah bangunan dengan arsitektur Cina yang amat sempurna. Bahkan, ini paduan seni arsitektur dan seni rupa. Karena setiap tiang, pintu, dan langit-langit yang dibuat dari kayu-kayu penuh lukisan, dengan detail yang amat rumit.
Itulah warisan budaya China yang hingga saat ini sering dikunjungi para wisatawan asing maupun lokal.
Read More